Making Biobriquettes from Patchouli and Rice Husks Using Tapioca Flour Glue

Penulis

DOI:

https://doi.org/10.52158/jamere.v6i2.1665

Kata Kunci:

biobriquette, patchouli distillation waste, rice husk, tapioca starch adhesive, renewable energy.

Abstrak

Meningkatnya kebutuhan energi serta semakin terbatasnya cadangan bahan bakar fosil mendorong pengembangan sumber energi terbarukan yang berasal dari biomassa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku pembuatan biobriket. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi perekat tepung tapioka (5%, 8%, 10%, 12%, dan 14%) terhadap karakteristik biobriket yang dibuat dari campuran limbah penyulingan minyak nilam dan sekam padi dengan perbandingan 50:50, serta menentukan komposisi perekat yang paling optimal. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Biobriket yang dihasilkan diuji berdasarkan kadar air, kadar abu, kadar zat menguap, dan laju pembakaran sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi perekat memberikan pengaruh terhadap seluruh parameter pengujian. Kadar air berkisar antara 11,25–14,94%, kadar abu 32,54–40,28%, kadar zat menguap 32,04–38,14%, dan laju pembakaran 0,4118–0,6094 g/menit. Komposisi perekat 12% menghasilkan karakteristik biobriket yang paling seimbang, yaitu kadar air 13,06%, kadar abu 34,52%, kadar zat menguap 36,17%, dan laju pembakaran 0,4589 g/menit. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan perekat tepung tapioka sebesar 12% merupakan komposisi optimum untuk menghasilkan biobriket dengan kualitas pembakaran yang baik sekaligus mendukung pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

Biografi Penulis

  • Dr, Politeknik Negeri Manado

    Teknik Mesin

Referensi

[1] S. W. Santika, Z. Ginting, Sulhatun, R. Nurlaila, and Masrullita, “PEMBUATAN BRIKET BIOARANG DARI LIMBAH PADAT HASIL PENYULINGAN MINYAK NILAM TERHADAP BERAT BAHAN BAKU DAN TEMPERATUR PIROLISIS DENGAN METODE PIROLISIS,” vol. 4, no. October, pp. 618–628, 2023.

[2] R. Y. Syaifullah et al., “Dedikasi : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat,” vol. 1, no. 2, pp. 42–52, 2024.

[3] M. D. Syah, “Penentuan Setting Level Optimal Pada Pembuatan Briket Campuran Limbah Daun Kering Nilam dan Sekam Padi Dengan Metode Taguchi,” vol. 15, no. 10, pp. 1–101, 2017, [Online]. Available: https://jrmsi.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jrmsi/index

[4] A. Oktafiani and D. Triardianto, “Karakteristik Briket Dari Campuran Ampas Tebu Dan Sekam Padi Dengan Rasio Perekat Tepung Tapioka Yang Berbeda: Characteristics of Briquettes Made from a Mixture of Sugarcane Bagasse and Rice Husk with Different Ratios of Tapioca Starch Adhesive,” Nac. (National Conf. Innov. Agric., no. November, pp. 66–75, 2024, doi: 10.25047/nacia.v3i1.330.

[5] A. L. Sanni and I. Nurjannah, “Pengaruh Variasi Komposisi Bahan Baku Sekam Padi, Bonggol Jagung Dan Perekat Tapioka Terhadap Kualitas Dan Performa Pembakaran Briket Biomassa,” J. Tek. Mesin, vol. 13, no. 02, pp. 83–90, 2024, [Online]. Available: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jtm-unesa/article/view/64642

[6] A. Maurif, Nurhabiah, Muhammad, L. Hakim, Z. Ginting, and R. Mulyawan, “PENGARUH VARIASI JENIS DAN VOLUME PEREKAT (TEPUNG TAPIOKADAN AIR TEBU) TERHADAP KUALITAS BRIKET DARI PELEPAH KELAPA SAWIT(ELAEIS GUENENSIS JACQ),” vol. 9, no. 2, pp. 136–143, 2024.

[7] M. Wijianto, A. Susanto, and R. Pratama, “Pemanfaatan sekam pagi sebagai bahan bakar alternatif dan produk bernilai tambah,” vol. 12, no. 2, pp. 78–85, 2022, [Online]. Available: https://doi.org/10.24853/jtip.12.2.78-85

Unduhan

Diterbitkan

2026-08-01

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Making Biobriquettes from Patchouli and Rice Husks Using Tapioca Flour Glue. (2026). Journal of Applied Mechanical Engineering and Renewable Energy, 6(2), 94-98. https://doi.org/10.52158/jamere.v6i2.1665